Saturday, December 3, 2022
Home Esai Sepasang Sepatu Baru

Sepasang Sepatu Baru

Genap hari ini satu tahun aku kehilangan seseorang.

Seseorang yang ketika tangisku menjerit keras digendongnya aku diletakkannya telingaku dekat dengan tempat berdenyut jantungnya, andai saat itu aku tau yang kudengar itu adalah bunyi sesuatu yang memompa hidupnya, aku akan segera berhenti menangis. Seseorang yang pulang dengan senyuman walau beban bertumpuk di belakang pungungnya ketika itu kusambut ia dengan pipi yang belepotan warna merah kuning hijau dari pensil warna yang dibelikannya saat aku merengek minta dibelikan.

Seseorang yang tak pegal kakinya mengayuh engkolan setiap pagi sebelum mengantarku ke sekolah yang jaraknya bertolak belakang dengan tempat ia menggali nafkah untukku dan keluarga saat itu aku selalu turun dari motor di depan gerbang sekolah, tanda kesal karna tak dibelikan motor seperti teman-temanku yang lain.

Tak ingin ku cium tangannya hanya dengusan kesal yang kutampakkan padanya, namun bibirnya tak pernah marah dengan sikapku yang tak tahu diri saat itu, diucapkannya setiap aku berlari masuk ke gerbang sekolah: “Kejar cita-citamu anakku, ayah akan selalu mendukungmu!” itulah pesannya setiap pagi yang ia teriakkan dengan senyum yang tulus.

Dan aku yang hanya remaja labil saat itu merasa malu sekali, tiap ia ucapkan itu, saat itu pula teman-temanku yang katanya paling mandiri itu mentertawaiku.

Seseorang yang melepas kepergianku menuju kampus yang ku idamkan dengan membelikan sepasang sepatu baru, yang saat itu juga membuatku ditertawakan satu universitas, dia memberikannya tepat di hadapan satu universitas yang saat itu sedang mengadakan masa pengenalan kampus, dan kau tau apa yang ku lakukan saat itu, aku membentaknya di hadapan semua orang, bodohnya aku. Pasca itu, semua berubah ayah, namun awan kasih sayang yang tersembunyi di balik kulit yang semakin mengerutmu itu tetap abadi.

Selepas semua yang terjadi dan sekarang aku disini ayah, saat ini memori di kepalaku memutar ulang kejadian demi kejadian detail demi detail semua kisah kita ketika bersamanya. Sekarang tak lagi bisa ku lihat semua itu, tak lagi bisa ku nikmati dan rasakan semua itu, sesuatu yang ingin dirasakan semua orang, rela mempertaruhkan apapun demi mendapatkannya namun aku yang bodoh ini menyia-nyiakannya, Kasih Sayang.

Aku baru menyadarinya ketika kepergiannya, kepergian abadi. Banyak orang bilang, kita baru tahu rasa berharganya seseorang ketika kepergiannya, ku kira hanya berlaku pada lakon kehidupan romantisme hubungan laki-laki dan wanita yang lucunya hanya berkenalan satu-dua bulan-hingga waktu lainnya, jumlah waktu yang tidak akan pernah sebanding untuk mengalahkan waktumu bersama mereka yang membesarkanmu. Tapi, anggapanku ternyata salah, saat ini aku merasakan kehilangan yang jauh lebih dalam dibanding kehilangan kekasih yang baru saja putus denganku 1 bulan yang lalu. Aku kehilangan Ayahku.

Kehadirannya tak pernah ku balas dengan senyuman bahagia, perasaan gembira yang bertubi-tubi, barangkali hanya saat kecil aku merasakannya, namun mengapa semakin dewasa aku semakin melupakannya, selalu saja ibu yang kita anggap sebagai tempat teduh untuk berteduh, sedang sosok ayah memang jarang menunjukkan hal itu, ditampakkannya dalam wujud yang buta untuk kita lihat realitasnya, kadung tersingkap hanya ketika ia tiada.

Aku duduk di sebelahmu saat tanganmu sudah mendingin, bukan karna suhu, bukan karna engkau habis hujan-hujanan, bukan pula karna AC ruangan, dinginmu tanda kepergianmu, oh apakah dingin dan pergi selalu jadi satu, saling memeluk satu dan yang lain. Tak sempat terucap maaf kepadamu atau terima kasih kala telingamu masih bisa mendengar, kala matamu masih setia memandangiku, kala tanganmu tak jemu mengusap rambutku, kala senyum bibirmu yang tak lekang oleh usia menenangkanku. Semua terucap hanya ketika aku melihatmu beku, engkau masih hidup hanya berpindah alam saja, aku selalu meyakini itu, namun tetap saja ..”Ayah… dadaku tetap sakit”.., ucapku.

Ayah… aku terduduk diam di taman rumah sakit saat ini, ditemani hujan kecil dan angin malam yang dinginnya tak ada apa-apanya dibandingkan saat ku genggam tanganmu tadi.

Ayah.., aku memandang langit, mengucap lagi kata maaf dan terima kasih yang hanya dengan dua kata masih terisa untuk kuucapkan padamu, bukti maluku padamu ayah. Engkau mengantarkanku menjadi seperti sekarang, menjadi dokter seperti yang engkau ucapkan dalam doa setiap malam, namun naas aku tak mampu menolongmu. Begitu jahatkah diriku, ayah? setelah hidup yang kita lalui dengan diriku yang tak pernah menyadari kasih sayangmu padaku, dan di saat terakhir pun saat aku mulai menyadari semua itu, tak mampu juga ku raih kata terakhirmu untukku.

Aku terlambat ayah, aku terlambat…, setelah ini lembah penyesalan akan menghantuiku ayah…,

“Ayah, aku harus apa? Maafkan aku”…

“AKU MUNGKIN TLAH KEHILANGAN TAWAMU, NAMUN DOAMU ABADI KAN, AYAH? BANYAK YANG MASIH MENGANTRI MENUNGGU TUHAN MENGABULKANNYA, TERIMA KASIH AYAH”

Yogyakarta, 14 Januari 2020

Ilustrasi : pinterest.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Baca Juga

Argentina Menang Telak 2-0, Polandia Turut Masuk 16 Besar

Labuhanpos.com - Kemenangan Telak Timnas Argentina 2-0, Polandia turut serta melaju ke Babak 16 besar Piala Dunia 2022 pada Kamis (1/12/2022) dini...

Pemkab Labuhanbatu Rencanakan Pembangunan Desa Inovatif Swasembada Pangan

Labuhanpos.com, Labuhanbatu - Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu merencanakan pembangunan kawasan Desa inovatif yang diimplementasikan dengan model Desa berinovasi Swasembada Pangan. Sesuai dengan rencana...

Kaban Bappeda Labuhanbatu Tinjau Persiapan Penangkaran Benih Padi Varietas Ngaos Mawar

Labuhanpos.com, Labuhanbatu - Kaban Bappeda Kabupaten Labuhanbatu Hobol Z Rangkuti meninjau persiapan penangkaran benih padi Varietas Ngaos mawar di Desa Sei Rakyat...

Memperingati HKN ke-58, Dinkes Gelar Kompetisi Olahraga & Seni Dalam Liga Puskesmas

Labuhanpos.com, Labuhanbatu - Memeriahkan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 Tahun 2022, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Labuhanbatu menggelar Kompetisi Olahraga dan Seni Antar...