Sunday, December 4, 2022
Home Fiksi Cerpen Segelas Bingung Untuk Pengangguran Menjelang Rabu Pagi

Segelas Bingung Untuk Pengangguran Menjelang Rabu Pagi

Labuhanpos—Hari ini bukannya Arjuna tidak mensyukuri hidup pemberian Tuhan. Entah mengapa hari ini sumpah serapah ingin diucapkannya pada hidup yang berjalan seperti bajingan ini, persis seperti kata penyanyi yang sedang naik daun di kalangan anak-anak muda sok-sok-an galau itu. “Akkhh hidup kurang ajar…” teriaknya.

Pagi ini biasa saja sebenarnya, sama seperti hari-hari yang telah lalu, tak ada yang spesial, rutinitas pagi tetap dijalankan, teh hangat tak ada yang menyiapkan, bunyi krasak-krusuk para pengantar jajanan pasar menuju kedai pengepul yang akan dibuka pukul 06.00 pagi, serta kicau motor khas dengan treng..treng..treng..nya milik tetangga sebelah seorang PNS masih setia memekikkan telinga. Hal biasa yang dilalui Arjuna setiap pagi-nya, tapi pagi ini entah mengapa dadanya terasa penuh akan gemuruh yang tak tahu datang dari mana lengkap dengan kilat menyambar-nyambar setiap aliran darah di tubuhnya, seingat Arjuna tadi malam tak ada kegiatan aneh-aneh yang dilakukannya, yah hanya menegak satu gelas minuman haram, maaf ucapnya pada dirinya.

Di tengah suasana hati yangtak menentu ini, otak sebenarnya bekerja mencari kenyamanan, ah teori siapa lagi ini, entahlah dahulu pernah ku baca di suatu buku, lupa siapa penulisnya. Sudah tak perlu diambil pusing soal teori yang tak jelas nasab keturunannya ini, lebih baik kita cari tahu kenapa seorang penggangguran di tengah kota megah ini mendadak melamun dengan menahan letupan magma amarahnya.

Semua berawal dari tadi malam sebenarnya, hanya saja laki-laki pemalas ini pikun sementara, satu gelas saja pengakuannya tapi kenyataannya 7 botol dihabiskannya. Percayalah Arjuna sebenarnya bukan seorang pemabuk jangankan minuman haram menyentuh rokok pun gemetar tangannya, terngiang wajah ibunya. Tapi malam kemarin bukan khilaf bukan sihir seorang Arjuna yang dikenal sopan nan anggun perangainya, senyum yang aduhai, tangan yang ringan memberi, dan jutaan kebaikan lain pada dirinya yang tentu tak sanggup tangan ku menuliskannya, jika kamu penasaran dengan pujangga satu ini, kamu tanya saja pada warga desa Air itam ini, Rt 10 Rw 22 rumah nomor 232, nah ini alamat rumahnya, mampirlah kapan-kapan.

Tak ada kurangnya perangai pemuda satu ini, hanya saja sejak lulus kuliah tak ada pekerjaan yang didapatnya, aih jurusannya mentereng padahal, sarjana filsafat. Tapi jaman memang makin edan, kerjaan butuh orang dalam. Akhlaq dan ijazah nomor sekian sajalah, ada orang-orang baik yang punya lapangan pekerjaan yang masih menggunakan akal sehatnya untuk mempekerjakan orang, yah hanya saja belum beruntung saja anak satu itu.

Semalam, Arjuna hampir kehilangan akal sehatnya. Dia pulang ke kamar kos-kosannya dengan wajah senyum tenang mirip Park Hyung Sik yang sedang ramai-ramai itu beberapa minggu terakhir, tapi wajah itu sungguh palsu pandai betul ia menyembunyikan gelisah di hatinya, kamu terlalu baik Arjuna, banyak hati yang kamu jaga, namun hati sendiri dibiarkan teriris-iris luka yang tak tahu harus diceritakan kepada siapa sebagai sesama homo socialis yang saling membutuhkan satu sama lain. Di lewatinya pos ronda yang setiap malam selasa selalu ramai dengan berkumpulnya golongan muda dan golongan tua berbincang apapun, mulai dari modernisme, post-modern, hingga kasus selebritis yang digali secara filosofis oleh mereka, ah kampung ini unik memang. Setelah sampai di kos di kuncinya rapat-rapat menangis tersedu-sedulah ia menggenggam ijazah yang tak laku-laku dari musim tiktok bowo hingga musim tiktok sopo wae iso. Selepas menangis yang tak tertahankan itu, hampir terlelaplah pemuda kita satu ini, hanya saja pikirannya mulai dipengaruhi bujukan-bujukan aneh, “mengapa tak bunuh diri saja engkau”, ucap bisikan itu. Arjuna bangkit dari ratapannya, bisikan itu makin kuat, hampir goyah imannya, namun segera ia coba usir bisikan itu.

Tak tahan dengan bisikan yang terus merayunya untuk bunuh diri dengan berbagai macam metode, mulai dari gantung diri sambil disiarkan langsung di semua akun sosial media pribadinya, menegak racun di depan pos ronda biar langsung dikubur mayatnya oleh para filsuf kampung ini, hingga menggorok lehernya sendiri di dalam tanah yang sudah digalinya, biar saat warga menemukannya tinggal ditutup saja dengan tanah, tak perlu membakar lemak menggali kuburan untuk orang tak tahu diri yang mengambil hak Tuhan untuk mengakhiri roda kehidupan ciptaanNya.

Arjuna pun keluar rumah berusaha bersikap biasa saja di hdapan warga yang belum tidur juga di jam segini, makin malam makin ramai saja yang pergi menuju pos ronda, sedang para istri dan anak-anak berkeluh kesah menunggu di rumah, seorang istri yang merindukan nafkah lahiriahnya dari sang suami dan anak yang menunggu dibacakan buku cerita pengantar tidur oleh ayahnya, tak jarang saking meluapnya emosi para istri di temuinya sang suami yang masih asyik berdebat itu, diancamnya dengan kalimat “Tidur di luar malam ini!!!”, aih jika kalimat ini sudah dikumandangkan, bubar balik kanan jalan seorang jantan.

Arjuna yang berhasil melewati kerumunan pun akhirnya tiba di tepi jalan raya, namun bisikan itu masih terus bergema, di tengah kegelisahan pikirannya mencoba mencari solusi, dan ia teringat sesuatu bahwa di sebrang jalan ada akang-akang penjual minuman haram dalam modusnya sebagai penjual kedai cimol tengah malam, akang ini mahir tak terendus oleh polisi dan tak sembarang menjual botol hijau itu kepada orang-orang. Masih teguh dipegangnya prinsip hidupnya, bahwa “Biar kata aku penjual arak, amer, bir atau apapun kau sebut minuman haram ini, tak kan ku biarkan generasi muda mencicipinya”, gagah nian kelihatannya. Malam itu Arjuna mendatangi Akang itu, berdebat sengit mereka karna sang akang melihat pemuda gagah nan terkenal baik ini mencoba menyentuh minuman haram, aduhai kacau dunia jika kubiarkan, ucap akang. Namun, akhirnya Akang luluh juga setelah Arjuna mengungkapkan alasannya, bahwa ia sedang melawan bisikan bunuh diri di kepalanya. Terkaget-kaget Akang, diberikannya resep nasihat :

“Lebih baik kau shalat atau mengaji Qur’an ke masjid sana, atau kamu temui pak ustad, tapi dia sudah tidur sepertinya, nyenyak betul tidurnya, sedang salah satu umat di kampungnya ini hendak melakukan dosa besar”, nasihat Akang.

“Tak terpikirakan olehku kang, terima kasih nasihatmu, namun kulakukan nanti saja setelah menegak minuman yang bisa membuat lupa ini, kata orang-orang. Cepatlah kang, tolong saya”, bujuk Arjuna yang sudah tak tahan.

“Aih anak muda tak kusangka dirimu dalam kondisi sekarang, kasian betul aku, tapi baiklah anak muda, aku ini tak terlalu paham agama, ku beri kan kamu 10 botol, tak yakin diriku satu botol cukup melawan setan laknat di kepalamu itu, tertempel dimana kamu haha”, lanjut Akang.

“ini kotak yang sudah berisi minuman pembuat lupa, Gratis.. tapi setelah ini jangan pernah kamu temui aku dalam keadaan seperti sekarang ini, kamu itu idaman kampung ini, walaupun tak ada yang bisa membantumu memberikan kerja tetap, kerja serabutan boleh saja tapi tak bisa memberimu banyak, tau sendiri kamu kondisi kampung kita, makan saja sudah susah, ya sudah pergi sana segera!!!”, bentak Akang sambil memberikan kotaknya. Setelah mengucapkan terima kasih, Arjuna pun berlari kembali ke rumah, tak ada yang tahu sudah sepi pos ronda dan jalanan di gang sempit itu, para filsuf kampung Air Itam telah kembali ke pangkuan istrinya masing-masing.

Dan begitulah yang terjadi pada Arjuna, 7 botol dihabiskannya dan tertidur pulas hingga pagi menampakkan dirinya kembali pertanda untuk melanjutkan hidup yang serba tak pasti ini, tapi anehnya tak overdosis ia ternyata, kuat juga. Ah bukan karna dia kuat namun karna minuman itu diracik oleh mpu bir yang amat pandai. Terbangun dikiranya hanya satu gelas ditegaknya, ternyata 7 botol ludes. Begitulah kenapa sang pemuda ini begitu kesal pagi ini, melawan bujuk rayu maksiat dengan maksiat pula, sedang sang pembisik pun kebingungan, inginnya diarahkan ke dosa yang lebih besar malah yang digodanya melakukan dosa dengan kadar yang lebih kecil, “Aih tak jadi aku berpesta di tengah samudra”, ucap sang pembisik laknat itu. Di satu sisi Arjuna bersyukur karna bisikan itu hilang, di satu sisi lainnya pula ia menyesal terhadap perbuatannya, yah walaupun belum sadar bahwa ia menegak 7 botol, mungkin Tuhan sengaja membuatnya lupa, entahlah kita tak kuasa untuk menebak, Biarlah.[]

Ilustrasi : lovethispic.com

Official Kontributorhttps://labuhanpos.com
Hallo! Perkenalkan saya penulis utama di labuhanpos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Baca Juga

Argentina Menang Telak 2-0, Polandia Turut Masuk 16 Besar

Labuhanpos.com - Kemenangan Telak Timnas Argentina 2-0, Polandia turut serta melaju ke Babak 16 besar Piala Dunia 2022 pada Kamis (1/12/2022) dini...

Pemkab Labuhanbatu Rencanakan Pembangunan Desa Inovatif Swasembada Pangan

Labuhanpos.com, Labuhanbatu - Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu merencanakan pembangunan kawasan Desa inovatif yang diimplementasikan dengan model Desa berinovasi Swasembada Pangan. Sesuai dengan rencana...

Kaban Bappeda Labuhanbatu Tinjau Persiapan Penangkaran Benih Padi Varietas Ngaos Mawar

Labuhanpos.com, Labuhanbatu - Kaban Bappeda Kabupaten Labuhanbatu Hobol Z Rangkuti meninjau persiapan penangkaran benih padi Varietas Ngaos mawar di Desa Sei Rakyat...

Memperingati HKN ke-58, Dinkes Gelar Kompetisi Olahraga & Seni Dalam Liga Puskesmas

Labuhanpos.com, Labuhanbatu - Memeriahkan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 Tahun 2022, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Labuhanbatu menggelar Kompetisi Olahraga dan Seni Antar...